Wednesday, September 3, 2008

Keluarga Sakinah


Idaman Setiap keluarga muslim

Keluarga sakinah adalah idaman setiap keluarga muslim, tetapi tidak semua kelurga muslim memproleh atau mendapatkan keluarga yang sakinah.
Keluarga sakinah akan didapatkan manakala seluruh anggota keluarga mendukung untuk mengarahkan kesana, islam mengajarkan hal itu melalui pendidikan kepada seluruh anggota keluarga. Pendidikan ini dimulai sejak prenatal atau sebelum lahir, setelah lahir, masa anak-anak, masa dewasa sampai saat dipanggil Allah atau meninggal dunia.

Pendidikan sebelum lahir
Yang dimaksud pendidikan sebelum lahir adalah pendidikan yang dilakukan mulai saat calon ayah dan calon ibu bertemui tentu melalui proses yang sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. Tidak bergaul yang di luar ketentuan Allah dan Rasul Nya.
Pendidikan selama dalam kandungan ibu selama hamil, kedua orang tua selalu berbuat kebaikan menghindari perbuatan-perbuatan yang menyalahi aturan Allah dan Rasul Nya, tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, tidak melakukan perbuatan yang dapat menganiaya binatanag dan lain-lain, hal ini yang salah diartikan oleh sebagian besar adat jawa bahwa kalau ibu sedang hamil maka sang ayah tidak boleh memukul tikus nanti anaknya bisa cacat, tidak boleh menyembelih hewan nanti anaknya cacat dll. Padahal sebenarnya bukan itu maksudnya tetapi kalau orang tua selalu dan sering berbuat kejelekan tentu secara psikologis sang anak akan mengikuti kebiasaan orang tua tersebut, demikian pula sebaliknya.

Pendidikan setelah lahir
Disaat sang anak telah lahir, maka dilakukan beberapa amalan yang sesuai dengan sesuai ketentuan Rasulullah, tidak malah sebaliknya yang dituntunkan tidak dilakukan sedangyang tidak dituntunkan malah dilakukan.

Pendidikan keimanan
Pendidikan keimanan dimulai sejak anak-anak bahkansejak sebelum lahir, kedua orang tua tidak melakukan tindakan atau perbuatan syirik karena nantinya akan dicontoh oleh anak-anaknya.
Pendidikan formal yang ringan tapi mengesankan adalah masa kanak-kanak, oleh karena itu memilihkan anak sekolah Taman Kanak-Kanak sangat penting yaitu yang disitu mengajarkan nilai-nilai keiamana yang kuat kepada anak karena sangat besar pengaruhnya didalam rumah tangga. Pendidikan keimanan pada anak-anak dilakukan bersamaan dengan perbuatan-perbuatan seperti berdo’a diwaktu akan dan selesai makan, akan dan bangun tidur, menhafal Al Fatihah dan surat-surat pendek.
Pendidikan keimanan melalui buku-buku bacaan yang baik dan menjadi perhatian. Hiasan dinding rumah juga berperan dalam pendidikan keimanan. Makin bertambah umur anak akan meningkat jenjang sekolahnya, memerlukan cara pendidikan keimanan yang meningkat juga.

Pendidikan Ibadah
Hadist Nabi riwayat Abu Dawud dsri Ibnu ‘Amar memerintahkan agar anak berumur tijuh harus sudah diperintahkan untuk melaksanakan shalat. Jika telah berumur sepuluh tahun masih menunjukkan kemalasan, hendaklah perintah melaksanakan shalat itu agak diperkeras, jika perlu boleh dipukul, memukul anak disini tidak membahayakan kesehatan fisik anak. Keteladan orang tua dalam melaksanakan ibadah shalat sangat menentukan keberhasilan pendidikan pada anak -anak. Shalat jama’ah dalam keluarga sangat bermakna bagi terwujudnya kelurga sakinah. Setelah selesai shalat jama’ah, bapak-ibu dapat menggunakan waktu untuk menyampaikan pesan-pesan kepada anak-anak.
Ibadah juga dilatihkan pada anak-anak selambat-lambatnya setelah umur sepuluh tahun shalat sunnah, puasa. Lebih-lebih setelah anak-anak mencapai akhil baligh.

Pendidikan Akhlaq
Akhlaq menduduki posisi yang sangat penting dalam ajaran Islam. Hadist Nabi Riwayat Bukhori dari Abu Hurairah mengajarkan bahwa Nabi diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang luhur.
Pendidikan akhlaq secara praktis, dengan perbuatan nyata, sangat besar artinya bagi anak-anak, memberikan pakaian bekas yang masih pantas kepada teman-teman sekolah yang kurang mampu, mengantar makanan kepada tetangga, memasukkan uang ke kaleng infaq di Masjid Mushalla, sangat besar artinya untuk menambah rasa solidaritas sosial pada anak-anak. Rasa solidaritas diantara anggota keluarga hendaknya benar-benar dapat ditumbuhkan dan dipupuk.
Menghormati tamu supaya diajarkan pada anak-anak. Jika tamu membawa anaanak sebaya, supaya dipertemukan dengan anak-anak kelurga yang ditamui, sehingga mereka akan dapat bermain-main dengan alat permainan yang ada dalam keluarga. Kepada orang tua anak-anak dididik agar dapat menghormati, berbuat yang baik, dan selalu sopan.

Pendidikan Ketrampilan
Hadist Nabi Riwayat Bukhari dari Miqdam mengajarkan bahwa mmakanan terbaik bagi seseorang adalahyang diperoleh dari haasil kerjanya sendiri.Untuk memenuhi ajaran hadist Nabi tersebut, pendidikan ketrampilan sangat penting diberikan pada anak-anak. Melakukan sendiri hal-hal yang dibutuhkan dalam hidup sehari-hari hendaklah telah mulai dilatih memasuki pendidikan dasar, sesuai kemampuannya. Misalnya membersihkan tempat tidur, mengatur pakaian, mengammil makana, mengatur alat-alat sekolah dan sebainya. Pekerjaan teknis seperi menjahit, menyulam, memasak, perlu dididikan kepada anak perempuan.

Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
Hadist Nabi Riwayat Muslim dan Abu Hurairah mengajarkan bahwa Mukmin yang kuat lebuh baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah.Hadist Riwayat Ad-Dailami dari Bakr Ibn Rabi’I Al-Ashari mengajarkan anak-anak diajarkan berenang dan bermain panah.
Hadist tersebut mengajarkan agar pendidikan jasmani dan kesehatan memperoleh perhatian dalam keluarga. Mukmin yang kuat maksudnya meliputi kekuatan jasmani, rihani maupun material. Kekuatan diperoleh dari pendidikan keimanan ibadah, akhlaq, keilmuan, kesenian yang sehat dan sebainya. Kekuatan material diperoleh dengan pendidikan ketrampilan dan ekonomi pada khususnya.

Pendidikan Kemasyarakatan
Manusia adlah makhluj sosial yang dalam menjalani hidup didunia pasti membutuhkan adanya orang lain. Jiwa tolong menolong hendaklah didikkan sejak masa anak-anak. Dimulai dari menegakkan tolong menolong dalam lingkungan keluarga , hingga tetangga dan masyarakat luas. Kesadaran bahwa dalam menjalani hidup ini manusia pasti memerlukan orang lain, hendaknya dapat ditumbuhkan pada masa anak-anak.
Tepo seliro, kerja sosial, tenggang rasa dalam hidup bermasyarakat dididikkan juga kepada anak-anak. Sebuah nasehat Abu Bakar ArRozi : salah satu cabang iman adalah iman yang tumbuh pada kedua kaki yang buahnya adalah segala sesuatu yang dilakukan untuk kepentingan jama’ah ( orang banyak ). Jadi perlu ditanamkan pada anak-anak bahwa manusia itu tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.
Dari uraian diatas dapat diperoleh kesimpulan bahwa tujuan perkawinan menurut islam adalah guna mewujudkan keluraga sakinah. Keluarga Sakinah adalah bkeluarga yang hidup bertakwa kepada Laah swt, sehinng berkesanggupan menjadi panutan orang-orang muttaqin. Untuk mewujudkan keluarga sakinah, suami istri sangat besar peranannya.
Orang tua dibebani kewajiban untuk membimbing kehidupan keluarganya menuju terwujudnya Keluarga Sakinah. Keteladana orang tua sangat menentukan keberhasilannya. Upaya pendidikan anak menuju bertabi’at shaleh, berarti mengamalkan ajaran Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah meliputi aspek-aspek Aqidah Akhlaq, Ibadah, dan Kemasyarakatan.
Kebersamaan dalam berusaha mewujudkan Keluarga Sakinah mutlak diperlukan. Umat pengajak kebaikan dan ma’ruf serta mencegah kemungkaran hanya dapat terwujuig jika ruh jama’iyyah dapat ditumbuhkan dan dipupuk dengan baik. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat hidayah dan taufiq Nya kepada kita semua, Amin.

Oleh: Moch.Akhwan Hamid, S.AG.

PUASA RAMADHAN


Oleh : M. FARID ANWAR

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” ( Q.S.Al baqarah 183 )

Ibadah puasa walau nampak sangat berat, namun umat islam terasa nyaman, menyenangkan dan sangat dinantikan, merupakan ibadah tahunan dengan persiapan fisik tidak minum dan makan, sejak fajar hingga matahari tenggelam, bahkan untuk berbukapun disiapkan secara lengkap yang bisa disebut ta’jilan. Justru biasanya banyak yang terjebak hanya sampai disini bekal persiapan. Padahal masih ada yang lebih penting ysng perlu diwaspadai dan perlu diperhatikan.
Kami yakin persiapan secara fisik telah dipersiapkan, termasuk siap mencegah makan dan minum Insya Allah banyak yang kuat dan tahan karena sudah terlatih sejak kecil secara tahunan, namun banyak yang lengah dan melupakan, faktor yang justru sangat menentukan, yakni faktor kejiwaan.

PUASA TOTAL

Puasa secara total artinya tidak hanya mengajak fisiknya saja, namun menyertakan pula jiwa untuk berpuasa, artinya tidak hanya meninggalkan makan minum dan nafsu sex belaka, namun siap pula menahan nafsunya untuk melakukan hal-hal yang dapat merusak kondisi jiwanya.
Pada akhir ayat tersebut diatas dengan jelas Allah memperingatkan, agar kamu takwa, artinya dalam berpuasa agar hati-hati, agar wasapada, waspada terhadap ibadah puasanya, jangan dirusak deengan perilaku jahil, tindakan sia-sia, prilaku yang dapat menghapus noilai ampunan dan pahala, ini akibat bila jiwa tidak diajak puasa.!!

MENGAPA JIWA DIAJAK SERTA

Pada umumnya orang sam faham tentang merawat tubuh alias badan, memang tubuh perlu dirawat agar tumbuh, dengan memberi minum dan makan, dengan memilih menu yang baik agar tubuh terus tumbuh, segar dan menyehatkan.
Namun justru banyak yang lupa bahwa dibalik tubuh masih perlu yang ada diperhatikan, justru ini yang sangat menentukan kondisi organ badan , namun sayang banyak yang kurang paham. Alhamdulillah agama telah memberi tuntunan berdasarkan hadist dan qur’an, bayangkan andai tidak ada ajaran agama islam pasti jadi kebingungan, dengan adanya agama saja masih banyak yang lupa dan salah jalan.
Memperhatikan dan memelihara jiwa, justru banyak yang lupa dan terlena, mengapa?, karena jiwa bersifat abstrak, tidak bisa dilihat dan diraba, yang bisa dilihat gejalanya saja, bukankah orang cemberut: menandakan susah, orang tertawa: menandakan gembira, menangis: menandakan ….bisa terharu, gembira bisa terharu campur gembira?!. Jiwa memang misteri, penuh rahasia, namun alhamdulillah dengan agama kita paham, dibimbing dan dibuka, sehingga tak terperangkap terhadap hal-hal yang dhohir saja, ini disebabkan agama yang berasal dari Yang Maha Tau dan Maha Pencipta, yang selalu menunjukkan dan memberi hidayah berupa agama.
Bukankah nabi s.a.w menyabdakan bahwa didalam tubuh ada segumpal daging ( untuk memudahkan pengertian dikala itu agar mudah difahami), bila ia baik maka tubuh akan jadi baik seluruhnya, jika ia jelek maka tubuh akan jadi jelek seluruhnya, ia adalah qalbu ( hati/jiwa ). Begitu bijak dan pandai nabi menggambarkan dan memberikan penjelasan, sehingga mudah dicerna dan difahami. Sehingga ditanamkan iman didalam jiwa secara mendalam, jiwa tauhidpun ditanamkan, agar jiwa mengenal ke Esaan Tuhan, zat yang Maha Pencipta, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Melihat.
Dengan jiwa yang mengenal dan faham terhadap penciptanya, akan lain dan berbeda dengan jiwa yang tidak mengenal Tuhannya. Secara otomatis berbeda juga perilakunya, sikapnya, akhlaknya!!!.
Jiwa yang mengenal, selalu ingat dan selalu melaksanakan tuntunan-Nya akan tenang, jiwa yang tenang akan membuat daya tahan tubuh menjadi meningkat, dengan meningkatnya daya tahan, tubuh tak mudah terserang penyakit, dengan demikian menjadi sehat.
Jiwa yang sehat membuahkan perilaku sejuk, enak, nyaman, dam menyelamatkan lingkungan. Suka senyum, bila berkata sejuk tak menyakitkan, suka menolong, tak suka meminta apalagi mengganggu kenyamanan orang, pemaaf, suka saling sayang.
Akankah pantas kita yang melaksanakan puasa atas dasar firman Allah ini faham, bahwa puasa yang diperintahkan tidak hanya bersifat lahiriyah saja!, perhatikan kalimat terakhir pada ayat tersebut diatas : agar kamu takwa. Suatu saat nabi s.a.w menjelaskan pengertian takwa, beliau menjelaskan bahwa takwa itu disini, sambil beliau mengarahkan telunjuknya ke dada.
Puasa seharusnya tidak hanya sebatas berhaus dan berlapar saja, yang artinya hanya sebatas puasa lahir saja, namun jiwanya, bathinnya harus diajak serta, ini masa sebenarnya!. Oleh karena itu sangat tepat dan pantas bila nabi s.a.w menyebutkan bahwa puasa itu perisai ( junnah ).


PUASA ITU BERAT?


Tergantung!, artinya tergantung dari jiwanya, kembali kepada niat yang merupakan bagian dari tugas jiwa pula, bila didasari dengan niat yang ikhlas karena Allah semata, puasanya jadi tidak berat walaupun terasa haus dan lapar. Ini peran jiwa, sangat menentukan!. Jiwa merupakan motivator, merupakan faktor pendorong, dari jiwa ini ibadah akan terasa enjoy, nyaman, tidak merasa dipaksakan atau ditekan, disini letak rahasia niat!.

AWALI DENGAN NIAT

Nabi s.a.w bersabda : “ barang siapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tiadalah sah puasa baginya “ ( H.R lima ahli hadist )
Ini pentingnya niat sehingga Nabi sangat menekankan, dari niat ini pula akan sangat menentukan nilai ibadah, berpahala atau tidak. Oleh karena itu jangan lupa memasang niat sebelum berpuasa, pasanglah niat melaksanakan ibadah puasa karena dan mengharap akan Allah ( pahala dan ampunan-Nya ).
“ barangsiapa yang berpuasa pada Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu “. ( H.R Bukhari dan Muslim )
tentang tata cara niat Nabi s.a.w tidak pernah mengajarkan secara detil, yang penting hati menyengajakan mengarahkan niat semata-mata melaksanakan ibadah karena Allah.