
Oleh : M. FARID ANWAR
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” ( Q.S.Al baqarah 183 )
Ibadah puasa walau nampak sangat berat, namun umat islam terasa nyaman, menyenangkan dan sangat dinantikan, merupakan ibadah tahunan dengan persiapan fisik tidak minum dan makan, sejak fajar hingga matahari tenggelam, bahkan untuk berbukapun disiapkan secara lengkap yang bisa disebut ta’jilan. Justru biasanya banyak yang terjebak hanya sampai disini bekal persiapan. Padahal masih ada yang lebih penting ysng perlu diwaspadai dan perlu diperhatikan.
Kami yakin persiapan secara fisik telah dipersiapkan, termasuk siap mencegah makan dan minum Insya Allah banyak yang kuat dan tahan karena sudah terlatih sejak kecil secara tahunan, namun banyak yang lengah dan melupakan, faktor yang justru sangat menentukan, yakni faktor kejiwaan.
PUASA TOTAL
Puasa secara total artinya tidak hanya mengajak fisiknya saja, namun menyertakan pula jiwa untuk berpuasa, artinya tidak hanya meninggalkan makan minum dan nafsu sex belaka, namun siap pula menahan nafsunya untuk melakukan hal-hal yang dapat merusak kondisi jiwanya.
Pada akhir ayat tersebut diatas dengan jelas Allah memperingatkan, agar kamu takwa, artinya dalam berpuasa agar hati-hati, agar wasapada, waspada terhadap ibadah puasanya, jangan dirusak deengan perilaku jahil, tindakan sia-sia, prilaku yang dapat menghapus noilai ampunan dan pahala, ini akibat bila jiwa tidak diajak puasa.!!
MENGAPA JIWA DIAJAK SERTA
Pada umumnya orang sam faham tentang merawat tubuh alias badan, memang tubuh perlu dirawat agar tumbuh, dengan memberi minum dan makan, dengan memilih menu yang baik agar tubuh terus tumbuh, segar dan menyehatkan.
Namun justru banyak yang lupa bahwa dibalik tubuh masih perlu yang ada diperhatikan, justru ini yang sangat menentukan kondisi organ badan , namun sayang banyak yang kurang paham. Alhamdulillah agama telah memberi tuntunan berdasarkan hadist dan qur’an, bayangkan andai tidak ada ajaran agama islam pasti jadi kebingungan, dengan adanya agama saja masih banyak yang lupa dan salah jalan.
Memperhatikan dan memelihara jiwa, justru banyak yang lupa dan terlena, mengapa?, karena jiwa bersifat abstrak, tidak bisa dilihat dan diraba, yang bisa dilihat gejalanya saja, bukankah orang cemberut: menandakan susah, orang tertawa: menandakan gembira, menangis: menandakan ….bisa terharu, gembira bisa terharu campur gembira?!. Jiwa memang misteri, penuh rahasia, namun alhamdulillah dengan agama kita paham, dibimbing dan dibuka, sehingga tak terperangkap terhadap hal-hal yang dhohir saja, ini disebabkan agama yang berasal dari Yang Maha Tau dan Maha Pencipta, yang selalu menunjukkan dan memberi hidayah berupa agama.
Bukankah nabi s.a.w menyabdakan bahwa didalam tubuh ada segumpal daging ( untuk memudahkan pengertian dikala itu agar mudah difahami), bila ia baik maka tubuh akan jadi baik seluruhnya, jika ia jelek maka tubuh akan jadi jelek seluruhnya, ia adalah qalbu ( hati/jiwa ). Begitu bijak dan pandai nabi menggambarkan dan memberikan penjelasan, sehingga mudah dicerna dan difahami. Sehingga ditanamkan iman didalam jiwa secara mendalam, jiwa tauhidpun ditanamkan, agar jiwa mengenal ke Esaan Tuhan, zat yang Maha Pencipta, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Melihat.
Dengan jiwa yang mengenal dan faham terhadap penciptanya, akan lain dan berbeda dengan jiwa yang tidak mengenal Tuhannya. Secara otomatis berbeda juga perilakunya, sikapnya, akhlaknya!!!.
Jiwa yang mengenal, selalu ingat dan selalu melaksanakan tuntunan-Nya akan tenang, jiwa yang tenang akan membuat daya tahan tubuh menjadi meningkat, dengan meningkatnya daya tahan, tubuh tak mudah terserang penyakit, dengan demikian menjadi sehat.
Jiwa yang sehat membuahkan perilaku sejuk, enak, nyaman, dam menyelamatkan lingkungan. Suka senyum, bila berkata sejuk tak menyakitkan, suka menolong, tak suka meminta apalagi mengganggu kenyamanan orang, pemaaf, suka saling sayang.
Akankah pantas kita yang melaksanakan puasa atas dasar firman Allah ini faham, bahwa puasa yang diperintahkan tidak hanya bersifat lahiriyah saja!, perhatikan kalimat terakhir pada ayat tersebut diatas : agar kamu takwa. Suatu saat nabi s.a.w menjelaskan pengertian takwa, beliau menjelaskan bahwa takwa itu disini, sambil beliau mengarahkan telunjuknya ke dada.
Puasa seharusnya tidak hanya sebatas berhaus dan berlapar saja, yang artinya hanya sebatas puasa lahir saja, namun jiwanya, bathinnya harus diajak serta, ini masa sebenarnya!. Oleh karena itu sangat tepat dan pantas bila nabi s.a.w menyebutkan bahwa puasa itu perisai ( junnah ).
PUASA ITU BERAT?
Tergantung!, artinya tergantung dari jiwanya, kembali kepada niat yang merupakan bagian dari tugas jiwa pula, bila didasari dengan niat yang ikhlas karena Allah semata, puasanya jadi tidak berat walaupun terasa haus dan lapar. Ini peran jiwa, sangat menentukan!. Jiwa merupakan motivator, merupakan faktor pendorong, dari jiwa ini ibadah akan terasa enjoy, nyaman, tidak merasa dipaksakan atau ditekan, disini letak rahasia niat!.
AWALI DENGAN NIAT
Nabi s.a.w bersabda : “ barang siapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tiadalah sah puasa baginya “ ( H.R lima ahli hadist )
Ini pentingnya niat sehingga Nabi sangat menekankan, dari niat ini pula akan sangat menentukan nilai ibadah, berpahala atau tidak. Oleh karena itu jangan lupa memasang niat sebelum berpuasa, pasanglah niat melaksanakan ibadah puasa karena dan mengharap akan Allah ( pahala dan ampunan-Nya ).
“ barangsiapa yang berpuasa pada Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu “. ( H.R Bukhari dan Muslim )
tentang tata cara niat Nabi s.a.w tidak pernah mengajarkan secara detil, yang penting hati menyengajakan mengarahkan niat semata-mata melaksanakan ibadah karena Allah.


No comments:
Post a Comment