Thursday, November 8, 2007

Emansipasi Wanita dan Implikasinya, dalam sorotan Islam



Oleh: DRA. SRI SUSANTI, MA

Ketika kita bicara masalah wanita, hakikatnya tidak terlepas dari kacamata syariat dan sosial. Sebuah isu perbincangan yang banyak mendominasi forum diskusi adalah munculnya kaum wanita di tengah teknologi dan industri. Rupanya dengan telah dipukulnya gong emansipasi, kaum wanita karier mulai angkat bicara. Kendatipun John Stuart Mill, seorang ahli filsafat mengemukakan bahwa wanita tidk cenderung memaparkan dirinya.

Rupanya hal tersebut disebabkan karena kaum wanita hanyalah subordinasi kaum laki-laki. Wanita, lanjut Mill dalam bukunya “ the subjection of women “ justru menyelubungi dan mengisolasi diri.

Di Indonesia misalnya, di saat kunjungan Belanda dan Jepang, wanita hanyalah sebagai apa yang disebut “ sexual service “ yang orang jepang menyebutnya sebagai “ ianfu “ atau penghibur nafsu belaka. Maka muncullah RA. Kartini dengan gaung dan ajaran emansipasinya sebagai cetusan pemberontakan nasib kaum wanita tersebut. Kini, gaung emansipasi telah membawa dampak yang besar terhadap tatanan nilai-nilai norma peralihan budaya yang tidak dapat dikatakan wajar. Peristiwa ini tidak pernah lepas dari sorotan sejarah, yakni sebuh sorotan terhadap kaum wanita sejak jaman pra peradaban hingga era feminisme.

Gerakan feminisme yang menuntut kesejajaran antara kaum laki-laki dan perempuan dalam segala aspek kehidupan, lahir dari kaum sosialis Amerika Serikat yang kini sudah mendunia. Menurut Dra. Susilaningsih Kuntowijoyo, MA bahwa gerakan feminisme erat kaitanya dengan Women Liberation movement( gerakan pembebasan wanita ). Gerakan ini dikenal dengan sebutan “ Women’s Lib ( WL ) yang merupakan suatu gerakan sosial yang perduli terhadap perlunya perubahan peran dan status wanita. WL yang merebak di AS dan sekitarnya, kemunculannya dilatarbelakangi oleh adanya perlakuan yang diskrimintif atau tidak adil terhadap wanita, baik di bidang ekonomi, politik, pendidikan maupun segi kesempatan lain.

Gerakan feminisme, lanjut Susilaningsih mengandung dampak positif dan negatif. Segi negatifnya, bahwa kaum feminisme menginginkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, maka cenderung menghapus kodrat wanita. Namun dampak positifnya, langsung atau tidak langsung secara internasional dapat menyadarkan beberapa pihak tentang keberdaan dan harga diri wanita.

Islam sendiri sebenarnya sama sekali tidak membelenggu kaum wanita dan tidak mengikatnya kecuali dengan tali moral, yang demikian dapat mengangkat derajat dan menambah kehormatan dirinya. Islam juga menarik tangan wanita lalu menyelamtkannya dari kedzalimn Jahiliyah. Ketika Allah mengangkat muhammad sebagai Rasul, maka pada sat itu Allah mengangkat tangan wanita dan memberikan kepadanya kebebasan yang benar serta rasional.Allah memberikan hak kepada wanita secara utuh tidak kurang sedikitpun, menjadikannya sebagai pendamping laki-laki dalam melaksanakan kewajiban dan penerapan hukum.

Wanita mempunyai kedudukan sama dengan laki-laki kecuali dalam beberapa hal yang harus disesuaikan dengan nalurinya. Karenanya, dalam hal ini wanita memperoleh prioritas untuk dimuliakan dan diperlakukan lemah lembut sebagimana layaknya. Keberadaan wanita dalam islam yang begitu sempurna ini tidak dijumpai dalam agama lain. Islam sebenarnya tidak melarang seorang wanita bekerja atu melalui kegitatan di luar rumah, asal tidak melampaui batas kodrat kewanitaannya.

Wanita dan Iptek

Pembangunan telah menolong kaum wanita untuk masuk ke sektor publik meninggalkan sektor rumah tangga, atau bahkan sebuah konsekuensi yang tidak dapat kita hindari dalam proses pembangunan. Sebagai akibat dari ajaran emansipasi, yang jika kita refleksikan merupakan keinginan dan cita-cita luhur serta mulia, adalah munculnya kaum wanita di tengah-tengah gelombang kepesatan sains dan tehnologi modern. Arus wanita dalam memasuki lapangan kerja, baik sebagai TKW di luar negeri, buruh pabrik, guru atau pegawai, sesungguhnya merupakan akibat dari cara pandang sosial mereka yang berubah akibat pendidikan yang semakin tinggi. Di samping cara pandang di sektor ekonomi, maka sektor industri dipandang lebih menjanjikan hasil yang lebih banyak dibandingkan dengan pertanian. Sementara itu, akibat lahan pertanian yang semakin sempit dan adanya arus mekanisasi menyebabkan kesempatan kerja dibidang pertanian juga menyempit. Ironisnya, pabrik di tempat-tempat industri selalu tidak ramah terhadap wanita.

Kenyataan ini sangat bertolak belakang terhadap ajaran islam yang selalu megajarkan pola hidup keluarga sakinah. Tugas seorang ibu rumah tangga, kata Al Gazhali seorang ulama Mesir konteporer adalah tugas yang amat mulia. Seorang istri dapat saja keluar untuk pekerjaan tertentu, tetapi betapa pun pentingnya pekerjaan itu ia tidak boleh meninggalkan serta mengalahkan tugas utamanya sebagai ibu rumah tangga yang tidak mungkin dapat di gantikan oleh orang lain. Tugas-tugas utama itu antara lain : wanita sebagai istri.

Kedudukan istri dalam keluarga dalah sangat penting, karena kebahagian atau kesengsaraan yang terjadi dalam keluarga banyak ditentukan oleh sikap istri.

Wanita juga diposisikan sebagai anggota keluarga. Kehadiran bayi wanita sebagai anggota kelurga pada jaman Jahiliyah, dianggap aib dan hina. Sehingga tak segan-segan ayah dan ibunya menyingkirkan dan bahkan mengubur hidup-hidup bayi wanitanya. Namun, sejalan dengan berjalannya perkembangan kebudayan dan peradaban manusia yang kian maju, tiada lagi perbedaan antar manusia laki-laki dan wanita. Bahkan islam memandang, justru wanita itu mempunyai kedudukan yang mulia dan terhormat. Begitulah gelombang perjalanan kehidupan wanita sebagaimana terukir dalam sejarah. Hanya masyarakat Jahiliyahlah yang menganggap kehadiran wanita sebagai aib, sehingga patut di singkirkan.

Wanita pun di posisikan sebagai ibu rumah tangga. Peranan wanita sebagai ibu rumah tangga menempati posisi yang sangat urgent, karena dari rahim ibulah bayi-bayi akan lahir. Dan kita tahu bahwa sejak di dalam kandungan proses pendidikan anak sudah di mulai. Perilaku ibu pada saat sedang mengandung sangat berpengaruh sekali terhadap perkembangan psikologi anak.. Ibu adalah sosok yang paling dekat dan akrab dengan anak-anak dalam lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan kodrat seorang ibu sebagai wanita yang lemah lembut, penuh kasih sayang. Sehingga wajar jika anak-anak lebih banyak cenderung menurut terhadap imbauan ibu daripada seorang ayah. Maka dari itu fungsi dan tugas serta peran wanita baik sebagai istri, sebagai anggota keluarga maupun sebagai ibu rumah tangga harus lebih di utamakan daripada tugas dan aktivitas di luar kepentingan keluarga. Karena maju mundurnya suatu Negara tergantung pada pemudanya, sedangkan baik buruknya para pemuda banyak di tentukan oleh pendidikan keluarga, dan sosok yang paling berperan dalam pendidikan keluarga adalah ibu.

Dilema Wanita Karier

Soal wanita karier sudah banyak diperbincangkan dan diperdebatkan di mana-mana, yang pada kesimpulannya menempatkan wanita pada posisi yang dilematis. Dalam tinjauan syariat, Islam sebenarnya tidak melarang seorang wanita bekerja atau melakukan kegiatan di luar rumah. Hanya saja ada beberapa hal yang harus di perhatikan, yaitu:
1. pakaian harus sesuai dengan aturan islam
2. tidak melalaikan tugasnya sebagai ibu rumh tangga
3. tidak menurunkan martabatnya sebagai wanita dan sesuai dengan fitrah dan kejiwaan wanita pada umumnya
4. tidak melnggar ajaran islam mengenai hubungan antar pria dan wanita
5. dengan persetujuan suami.

Namun demikian, gerak wanita sesungguhnya lebih di batasi oleh kewajiban-kewajiban utama yang sulit dikerjakan pada saat bersamaan dengan kebolehan syara’ itu. Tetapi pada kenyataannya menunjukkan bahwa, wanita karier dalam segala levelnya cenderung kian mewabah. Baik dari posisi eksekutif perkantoran maupun yang menjadi sekrup roda-roda indutri.

Sebenarnya, kalau kita mau berfikir lebih cermat bahwasanya motif seorang wanita karier adalah karena faktor tekanan ekonomi. Akibat tuntutan kebutuhan itu, tidak ada alternatif lain baginya kecuali bekerja, walaupun itu sangat manusiawi. Keadaan yang demikin mengaharuskan wanita dihadapkan kepada persolan yang dilematis. Di satu sisi ia harus bekerja, sementara di sisi lain ia juga harus tahan menderita dalam pekerjannya. Karena persaingan kerja yang begitu ketat, maka ia tak punya pilihan lain. Sementara ada wanita berkrier karena faktor psikologis, ia ingin di akuieksistnsinya secara sosial, yang pada akhirnya muncullah gerakan emnsipasi yang menggiring mnusia terbentur pada pertentangan antara fitrah nurani dan obsesi. Nalurinya mengatakan, bahwa ia harus tinggal di rumah menjadi ibu yang baik bagi suami dan ank-anaknya dan juga terlindungi. Tapi pada kenyataanya ia menemukan dirinya berada ditengah belantara beton dan teriknya matahari. Sebuah pilihan yang dilematis memang, antra pekerjaan dan membela anak-anak.

Kebanyakan wanita yang sudah terlanjur menekuni kariernya, cenderung menyerahkan anak-anaknya kepada pembantu untuk membesarknnya dan mendidiknya. Emansipsi wanita karier menyebabkan meningkatnya kulitas dan kuantitas perjumpaan dan interaksi pria dan wanita. Hal ini sangat menyuburkan bibit fitnah dan skandal. Kondisi semacam inilah yang tidak diinginkan oleh syara’. Sebagaimana jauh sebelumnya Allah telah memperingtkan, bahwa istri adalah salah satu oknum- disamping anak-yang berpotensi menjadi fitnah bagi suami. Betapa tidak, seorang laki-laki karier begitu bersemangat bekerja bukan karena tuntutan amanah keluarga tetapi karena kenikmatan dan kepuasan berada di tengah-tengah wanita karier yang berpenmpilan dan berprilaku sangat erotis. Wanita kemudian menjadi obyek nafsu di pria yang berselera rendah, bahkan dapat mengancam stabilitas keimanan pria yang mencoba komit terhadap keIslamannya.

Akhirnya, kalaupun wanita karir itu mau mengindahkan apa kata syara’, maka sebenarnyalah tudingan terhadap kaum wanita tidak sekejam da sekeji itu. Wanita justru akan menjadi tonggak dan tiang Negara karena keshalehannya. Hanya saja karena ada beberapa dorongan wanita berkarier, yang ini dapt mengantarkan mereka pada pilihan yang dilematis; entah itu karena tekanan ekonomi, ataupun karena wanita ingin tetap eksis di tengah-tengah masyarakat yang pluralitas umat dan ideologi.

Mudah-mudahan saja kita sebagai wanita muslimah tetap berpegang dan berpijak diatas kodrat kewanitaan, yang terlepas dari virus-virus karierisasi yang semakin mengancam pudarnya fungsi dan kedudukan wanita. Semoga kaum wanita tidak semakin lengah oleh belaian harta yang siap menghimpit tangan-tangan halus wanita. Disaat itu jualah wanita akan terpana oleh gemerlapnya dunia dan melupakan kodratnya sebagai wanita.

Kutipan SUARA MUHAMMADIYAH edisi 9

Penulis adalah seorng dosen universitas muhammadiyah Ponorogo dan Sekretaris pada Lembaga Kajian dan pengembangan Al islam dan kemuhammadiyahan UNMUH Ponorogo.

1 comment:

iyunk77 said...

Posting yang brilian, walaupun cuma mengambil dare kutipan, tetapi saya sangat senang membacanya. Saya sangat me respect blog anda ini, sangat bagus menurut saya. Apakah anda dari keluarga yang muslim protect? atau anda adalah seorang santriwati? Bagi saya seorang muslimah yang baik di zaman ini haruslah mem publikasikan kepercayaan nya kepada dunia, karena kita semua menyadari bahwa Islam begitu lemah di dalam hal media, dimana begitu mudahnya Islam selalu kalah dan menjadi korban di dalam hal pemuta balikan fakta, dan ini sudah sangat sering terjadi di berbagai belahan dunia, bukankah begitu nona muslimah? Sekali lagi, saya ucapkan selamat me "media" kan Islam kepada dunia melalui blog yang atraktif ini. Sukses selalu buat anda! Dakwah lewat internet adalah termasuk hal yang mulia dan anda saat ini tengah berada di jalan Allah fi sabilillah.. "man salaka toriiqon yaltamisu fihi ilman sahhalallahu lahu bihi toriiqon ilal jannah" Salam hangat, Julis Sujai